Bookmark and Share

Boom your Sales!

Boom your Sales!

Beberapa minggu lalu saya diminta memberikan konsultasi untuk melariskan sebuah tempat usaha milik klien saya. Haha padahal saya bukan dukun penglaris :razz:

Lokasi tempat usaha sang klien memang berada di posisi yang tidak menguntungkan yaitu di sisi jalan lempeng alias lurus blas dengan space antara usaha satu dan lainnya ±50 meter. Ini membuat pengendara motor dan mobil nyaman membetot gasnya sekuat tenaga. Jadi istilahnya, “stopping point”-nya enggak ada untuk bikin mereka yang melintas menyempatkan diri menengok kanan-kiri — termasuk papan nama dan bangunan klien saya ini.

Nah beliau membutuhkan konsultasi gimana caranya supaya mendatangkan pengunjung tanpa banyak keluar duit. Seringkali usaha kecil mengalami kendala di anggaran promosi yang mana idealnya adalah 30% dari total pendapatan. Jadi butuh sesuatu yang jitu dan efektif.

Akhirnya saya sarankan beliau untuk membuat beberapa material promosi seperti banner untuk dipasangkan radius 15 meter dari tempat usaha dan dalam jangka waktu seminggu saja sudah terjadi peningkatan pengunjung. Wow!

Oke, yuk kita coba bedah elemen-elemen desain yang diperlukan untuk kasus ini beserta alasannya.

More…

March 4th, 2010

8

Jangan Takut jadi Bodoh

Kebanyakan orang berlomba-lomba menjadi sepintar mungkin sebelum memulai membangun usaha. Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa semakin Anda pintar, maka akan semakin mengerti pula Anda akan resiko usaha tersebut.

Nah, bila Anda merasa bodoh, jangan khawatir. Ternyata menjadi bodoh nggak selalu berkonotasi negatif. Ada value yang Anda dapatkan dengan menjadikan diri ini bodoh ketika memulai usaha. Bukan tampak bodoh secara penampilan lho ya :mrgreen:

More…

February 17th, 2010

3

Desainer Gratis

Delapan tahun lalu, euforia saya masuk kuliah akademi desain grafis begitu menggelora dengan segudang harapan untuk meyakinkan orang tua bahwa desainer juga bisa hidup. Berbekal sedikit modal freelance saat itu, berangkatlah saya menumpang bus dari kota Denpasar menuju Yogyakarta pada tahun 2002. PC jangkrik warisan pun turut diboyong serta. Saat itu memang tak ada kampus —yang secara visual terlihat meyakinkan di Bali. Saya mengenal akademi desain Jogja itu dari seorang pengunjung warnet yang saya kelola ketika SMA.

Awal mula kuliah sangat menyenangkan. Kami bisa nyeker, pake kaos oblong, main bola sepak depan kampus yang berlokasi di gang sempit daerah Wirobrajan. Sedikit sekali mahasiswinya. Kebanyakan bertampang khas pegadang tangguh. Lecek. Seperti label krupuk udang sablonan.

More…

February 12th, 2010

6

Yuk Berhenti jadi Tukang

“Saya jadi tukang web dari akhir 1998. Jaman setir Netscape browser masih segede dandang martabak. Jadi udah 12 tahun lamanya berdendang nyanyian kode.

Kini 2010 waktunya berhenti jadi tukang. Pengen sekali-kali ngadem naik mobil keren pake AC wara-wiri ibukota.”

Ngapain sih berhenti jadi tukang bikin web?

12 tahun jalan —tepatnya 8 tahun efektif, keuntungan yang didapat kok nggak maksimal dengan effort yang dikeluarkan selama ini. Kita buat web untuk ritel online misalkan. Kita bangun sistemnya dari nol sampai training staffnya, eeh malah mereka bisa hasilkan revenue senilai project tadi hanya dalam tiga bulan berjalan sejak launching. Rasanya kayak kecolongan.

Di 2009 lalu nilai per project di pasaran terasa makin ambrol dibandingkan 2008 yang saat itu booming istilah Web 2.0. Sedangkan cost & effort kita untuk mempelajari, mengembangkan struktur penyusun Web 2.0 tadi banyak sekali. Contoh sederhana misalnya dulu kita getol pake scriptaculous, sekarang dengan jQuery apa-apanya mudah. Kan seperti ada yang terbuang jadinya.

Jadi kasarnya, jadi tukang emang gak enak. Apalagi untuk pekerjaan macam knowledge-based seperti ini. Investasi pada sektor brainware terlampau besar. Lha kapan bisa naik mobil pake AC kalo tiap hari mantengin monitor? Jangan-jangan Range Rover idaman baru kebeli pas udah umur 50. Bejek pedal gas udah gemeter. Akhirnya yang nyetir malah supir :lol:

Percaya deh yang namanya regenerasi. Jangan ngotot jadi professional kalau hanya sebatas di level tukang.

More…

February 4th, 2010

8

FTA itu seperti Bom Waktu

FTA atau Free Trade Agreements antara ASEAN – China memang dimulai pada tahun 2010 ini. Tak banyak publik yang hirau akan FTA beserta dampaknya nanti. Televisi pun seolah tak tertarik memberitakan nota perjanjian perdagangan bebas ini. Tampaknya TV lebih memilih menyoroti berita bombastis seperti penjara elit si Artalita atau kasus Bank Century yang asik ditonton sambil mengunyah pop corn karena tak kunjung selesai seperti sinetron Tersandung 13.

Kebetulan salah satu klien saya ada yang berbisnis di bidang tekstil dan pakaian jadi. Saat kami ngobrol bareng ditemani berkaleng-kaleng beer San Miguel, ia cukup banyak bercerita dengan saya — walau aktivitas saya sendiri jauh dari hal berbau FTA.

“FTA itu seperti Bom Waktu” ujarnya.

More…

January 22nd, 2010

2

 

Subscribe RSS Feed

Page Rank

Profile

Madewira Made Hendra Wirawan, working full-time at Zoom Bali. This blog is intended for personal journal and doesn't represent my employee's or anyone else's unless mentioned.

And oh, my blog mostly written in Bahasa Indonesia just in case you wondering why this blog sounds strange.

View Profile…